Saturday, July 9, 2011

Bahan Bakar Masa Depan

Pada masa prasejarah, manusia hanya mengguanakan beberapa unsur alam sebagai energi tanpa pengolahan. Mereka menggunakan gesekan batu untuk menyalakan api. Berangsur-angsur manusia mengenal turbin untuk berbagai keperluan (pompa air, tambang). Dari tambang mereka menemukan minyak mentah, batu bara, minyak bumi. Dengan distilasi / penyulingan bertingkat minyak mentah bisa menghasilkan beberapa bahan bakar dimulai dari batubara (zat padat), minyak bumi,bensin,solar (zat cair), dan gas. Namun sayangnya sumber energi dari minyak bumi tidak bertahan lama. Banyak ahli memperkirakan kandungan minyak bumi sedikitnya 3 triliun barrel dan pontensial lebih dari 4 triliun barel. Bila konsumsi global naik 2% pertahun dari level tahun ini yang sekitar 85 juta barrel per hari, maka diperkirakan cadangan minyak akan habis pada 2070 bila dianggap cadangan 3 miliar barrel. 


Bagaimana cara kita mengantisipasi kekurangan energi di masa depan?

Beberapa energi alternatif sudah mulai digunakan tapi masih dalam tahap pengembangan dan belum bisa dijadikan sumber energi pokok dalam skala global.

* Daun Bayam
   >Bayam tak hanya memberikan tenaga bagi tokoh Popeye si pelaut. Tumbuhan yang kerap disantap sebagai sayuran bergizi ini pun ternyata bisa menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Para peneliti telah lama mencoba meniru cara organisme berfotosintesis memanfaatkan cahaya matahari, memecah air menjadi oksigen dan hidrogen, dan selanjutnya bereaksi dengan karbondioksida untuk menghasilkan gula sebagai sumber energi.

Kini, tim ilmuwan yang dipimpin Hugh O'Neill dari Department of Energy's Oak Ridge National Laboratory di Tennessee, Amerika Serikat (AS) mengombinasikan protein cahaya dengan senyawa yang dikenal sebagai block copolymers dan platinum catalyst untuk menghasilkan membran yang menghasilkan hidrogen dari sinar matahari.

Dilansir New Scientist dan dikutip detikINET, Kamis (10/2/2011), O'Neill dan timnya mengekstraksi protein II (LHC-II) kompleks dari bayam dan menambahkannya ke cairan mengandung copolymers dan sodium hexachloroplatinate yang diubah menjadi bahan platinum berkat bantuan matahari.

Selanjutnya, protein tersebut berinteraksi dengan copolymers, membentuk dirinya sendiri menjadi lembaran-lembaran berlapis seperti membran yang secara alamiah ditemukan pada membran hasil fotosintesis.
(sumber : http://www.detikinet.com/read/2011/02/10/081955/1568217/511/daun-bayam-hasilkan-bahan-bakar-alternatif )


* Air Laut
   >Suatu saat nanti, mungkin akan melihat banyak anjing laut yang mengelilingi stasiun pengisian bahan bakar. Itu karena bukan aroma bensin, melainkan justru aroma pantai yang lebih terasa di SPBU.
John Kanzius, 63 tahun, telah berhasil menciptakan alternatif bahan bakar dari air laut. Secara kebetulan, teknisi broadcast ini menemukan sesuatu yang menakjubkan. Pada kondisi yang tepat, air laut dapat menyala dengan temperatur yang luar biasa. Dengan sedikit modifikasi, tidak menutup kemungkinan di masa depan, ini dapat di jadikan sebagai alternatif bahan bakar untuk kendaraan bermotor.

Perjalanan Kanzius menjadi inspirasi yang mengejutkan bermula ketika dia di diagnosis menderita leukimia pada tahun 2003. Dihadapkan dengan treatment kemoterapi yang melelahkan, dia memilih mencoba untuk menemukan alternatif yang lebih baik dalam menghancurkan sel-sel kanker. Kemudian di muncul dengan alat Radio Frequency Generator (RFG), sebuah mesin yang menghasilkan gelombang radio dan memancarkannya ke suatu area tertentu. Kanzius menggunakan RFG untuk memanaskan pertikel metal kecil yang dimasukkan ke dalam tumor, menghancurkan sel tumor tanpa merusak sel yang normal.
Tetapi, apa hubungannya antara kanker dengan bahan bakar air laut??
Selama percobaannya dengan RFG, dia menemukan bahwa RFG dapat menyebabkan air yang berada di sekitar test tube mengembun. Jika RFG dapat menyebabkan air mengembun, seharusnya ini dapat juga untuk memisahkan garam dari air laut. Mungkin, ini dapat digunakan untuk men-desalinitasi air laut. Sebuah peribahasa tua tentang laut, “air, air dimana-mana, dan tidak satu tetespun dapat diminum”.
Beberapa negara mengalami kekeringan dan sebagian besar rakyatnya menderita kehausan, padahal 70% bumi adalah samudera yang notabene adalah air. Suatu metode yang efektif untuk menghilangkan garam dari air laut dapat menyelamatkan tak terhitung nyawa. Maka tidaklah heran jika Kanzius mencoba alat RFG-nya untuk tujuan desalinitasi air laut.
Pada test pertamanya, dia melihat efek samping yang mengejutkan. Ketika dia arahkan RFG-nya pada tabung yang berisi air laut, air itupun seperti mendidih. Kanzius lalu melakukan test kembali. Saat ini dengan kertas tisue yang terbakar dan menyentuhkannya ke dalam air laut yang sedang di tembak oleh RFG. Dia sangat terkejut, air laut dalam tabung terbakar dan tetap menyala sementara RFG dinyalakan.
Awalnya berita tentang eksperiment ini dianggap suatu kebohongan, tapi setelah para ahli kimia dari Penn State University melakukan percobaan ini, ternyata hal ini memang benar. RFG dapat membakar air laut. Nyala api dapat mencapai 3000 derajat Fanrenheit dan terbakar selama RFG dinyalakan.
Lalu bagaimanakah air laut dapat terbakar? Dan kenapa jika puntung rokok di lemparkan ke dalam laut tidak menyebabkan bumi meledak?
Ini semua berhubungan dengan hidrogen. Dalam keadaan normal, air laut mempunyai komposisi Sodium chloride (garam) dan Hidrogen, oksigen (air) yang stabil. Gelombang radio dari RFG milik Kanzius mengacaukan kestabilan itu, memutuskan ikatan kimia yang terdapat dalam air laut. Hal ini melepaskan molekul hidrogen yang mudah menguap, dan panas yang keluar dari RFG memicu dan membakarnya dengan cepat.
Jadi akankah di masa depan nanti mobil atau motor memakai air laut daripada bensin??
Dunia sudah tidak perlu khawatir lagi dengan krisis energi.
Bravo ilmu pengetahuan..!!! ( Sumber : http://sciencebiotech.net/air-laut-bahan-bakar-alternatif/ )


 * Jagung
   > Limbah jagung ternyata bisa juga dijadikan bahan bakar alternatif.
       cekidot...   http://mekanisasi.litbang.deptan.go.id/eng/index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=11&Itemid=63

No comments:

Post a Comment